Tak Sekadar Belajar, Kemenag Perkuat Karakter Anak di RA Lewat Kurikulum Cinta

KILAS INDONESIA, Makassar — Kementerian Agama mulai mengakselerasi penguatan layanan Raudhatul Athfal (RA) secara nasional pada awal 2026 melalui pendekatan pendidikan berbasis kasih sayang. Melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Ditjen Pendidikan Islam, Kemenag menggelar kegiatan Mainstreaming Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) berbasis Kurikulum Cinta di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat-Sabtu (13–14/2/2026).
Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya penguatan layanan RA yang tidak lagi semata berorientasi pada aspek pembelajaran akademik, tetapi juga mencakup pengasuhan, kesehatan, gizi, serta perlindungan anak dalam satu ekosistem layanan pendidikan yang terintegrasi.
Direktur GTK Madrasah, Fesal Musaad, mengatakan PAUD merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter anak sejak usia dini. Karena itu, penguatan PAUD HI berbasis Kurikulum Cinta menjadi langkah awal untuk memastikan proses pendidikan di RA berlangsung secara holistik dan berpusat pada tumbuh kembang anak.
Menurutnya, pendekatan Kurikulum Cinta menempatkan kasih sayang sebagai inti dalam proses pembelajaran. Guru RA tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping yang membangun kedekatan emosional dengan anak guna menciptakan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan.
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, M. Arskal Salim GP., dalam sambutannya secara virtual menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini harus menjadi ruang awal penanaman nilai empati, kepedulian, dan karakter positif yang akan membentuk kualitas generasi di masa depan.
Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Sulsel, Wahyudin Hakim, menilai pelaksanaan kegiatan di awal tahun menjadi langkah strategis dalam memperkuat kesiapan guru RA menghadapi target pembangunan generasi emas 2045.
Kasubdit Bina GTK RA, Wahyudi Ja’far, menambahkan forum ini juga menghasilkan rencana tindak lanjut serta praktik baik yang akan direplikasi di berbagai daerah sebagai model implementasi PAUD HI berbasis Kurikulum Cinta.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mendapatkan materi terkait implementasi PAUD HI, pendidikan inklusi dan parenting, persiapan Wajib Belajar 13 Tahun, hingga penyusunan strategi penguatan layanan di satuan RA.***
Redaksi
Penulis di Kilas Indonesia. Menghadirkan berita terkini dan terpercaya untuk pembaca setia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!



