Kilas Indonesia

Kemenag Dorong PSGA Jadi Pusat Rujukan Nasional Gender dan Garda Depan Kampus Tanpa Kekerasan

Redaksi
2 menit baca
Kemenag Dorong PSGA Jadi Pusat Rujukan Nasional Gender dan Garda Depan Kampus Tanpa Kekerasan

​CIREBON (KILASINDONESIA.Com) — Kementerian Agama (Kemenag) RI menegaskan komitmennya menjadikan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) sebagai pusat rujukan nasional dan garda terdepan dalam mewujudkan kampus yang aman serta bebas kekerasan.

​Sekretaris Jenderal Kemenag, Kamarudin Amin, menyatakan bahwa PSGA harus bertransformasi dari sekadar ruang akademik menjadi kekuatan strategis yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, PSGA harus berkontribusi aktif pada isu kebangsaan, mulai dari perlindungan anak, kesetaraan gender, hingga percepatan Sustainable Development Goals (SDGs).

​"PSGA adalah kumpulan akademisi yang harus memberikan kontribusi nyata. Isu gender dan anak adalah agenda global, sehingga PSGA harus terkoneksi dengan gerakan internasional serta berkolaborasi dengan lembaga seperti KemenPPPA untuk menghadirkan solusi konkret," ujar Kamarudin dalam Konsolidasi dan Konferensi Nasional PSGA PTKI di UIN Siber Syekh Nurjati, Cirebon, Rabu (1/7/2026).

​Kamarudin menekankan pentingnya keterlibatan PSGA dalam merespons program strategis nasional, seperti penanganan stunting, program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga penguatan ketahanan keluarga. "Ketahanan keluarga sangat krusial. Jika keluarga rapuh, dampaknya akan melahirkan persoalan sosial baru yang masif," tegasnya.

​Dalam kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan Pakta Integritas Anti Kekerasan sebagai komitmen mewujudkan lingkungan kampus yang inklusif. Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menegaskan bahwa PSGA wajib menjadi garda terdepan dalam menangani kekerasan seksual maupun kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus.

​"PSGA harus hadir sebelum sebuah kasus viral. Kami mengedepankan penyelesaian internal yang berkeadilan bagi korban," jelas Amien. Ia menambahkan, Kemenag saat ini tengah mengembangkan sistem pelaporan digital terintegrasi untuk mendukung program 'Kampus Bahagia Tanpa Kekerasan'.

​Sementara itu, Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Aan Jaelani, melaporkan bahwa konferensi ini diikuti oleh perwakilan dari 51 perguruan tinggi. Tingginya antusiasme terlihat dari masuknya 180 artikel ilmiah hanya dalam waktu dua pekan.

​"Penguatan PSGA selaras dengan gagasan Menteri Agama mengenai Kurikulum Berbasis Cinta, yakni pendidikan yang menanamkan kecintaan kepada Tuhan melalui penghormatan terhadap martabat sesama manusia tanpa membedakan gender maupun kondisi fisik," ujar Aan.

​Kegiatan yang berlangsung intensif ini juga menghadirkan sejumlah pakar dan aktivis seperti KH Husein Muhammad, Nyai Nur Rofiah, Katrin Bandel, dan Nyai Masriyah Amva, untuk merumuskan langkah strategis dalam pengarusutamaan gender di lingkungan pendidikan tinggi keagamaan.

Bagikan:

Redaksi

Penulis di Kilas Indonesia. Menghadirkan berita terkini dan terpercaya untuk pembaca setia.

Berita Terkait

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!